Sabtu, 12 Mei 2012

Wanita Tua Ini Harus Kehilangan Pekerjaannya Pasca Perubahan Manajemen Pengelolaan Candi Prambanan

 Yogyakarta,KOMPAS -Perubahan pada manajemen pengelolaan candi Prambanan yang akhirnya dapat meningkatkan mutu dan kualitasnya, berbanding terbalik dengan apa yang dialami wanita tua ini yang harus kehilangan sumber mata pencahariannya sebagai pemulung di candi Prambanan. 
Wanita tua itu bernama Sumiyem, usianya sekitar 65 tahun, warga asli desa Prambanan ini sehari-hari bekerja sebagai pemulung di area candi Prambanan. Penampilannya seperti pemulung kebanyakan, Wajahnya hitam karena tersengat matahari, rambutnya sudah memudar termakan usia, postur badannya sedikit bungkuk karena ia terbiasa membungkuk untuk memungut sampah. Badannya pun tidak terlalu tinggi, perawaknnya kecil dengan badan yang tidak terlalu kurus. Pakaian yang menempel dibadannya pun terlihat lusuh dan kotor dan yang terpenting tidak ada senyum di wajahnya dan menimbulkan kesan galak.
 
Setiap hari dengan tubuh tuanya itu ia menuju candi Prambanan untuk memungut sampah. Itu adalah pekerjaan tetapnya. Dengan memulung dia dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Wanita tua itu mempunyai keluarga. Ia hidup dengan suami, anak perempuannya, menantu, dan ketiga orang cucunya. Sumiyem memamng mempunyai anak, tapi keadaan ekonomi anaknya pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Suaminya sudah sangat tua dan sakit-sakitan dan hanya berbaring di tempat tidur. Dengan keadaan seperti itulah sehingga Sumiyem harus ikut bekerja keras demi memenuhi urusan perut keluarganya dengan menjadi pemulung di area candi Prambanan.
 
Keadaan Sumiyem yang sudah sangat memprihatinkan itu semakin dipersulit dengan adanya perbaikan manajemen di lokasi wisata candi Prambanan. Sekarang candi Prambanan mengalami perubahan diberbagai bidang, tiket masuknya pun semakin mahal sekitar Rp. 25.000,-, orang-orang yang tadinya berjualan di area dalam candi dipindahkan. Pedagang-pedagang pecel juga tidak diperbolehkan berjualan di dalam lagi. Semua dialihkan ke bagian luar candi di sekitar pintu masuk. Disediakan kios-kios yang disewakan oleh pihak pengelola candi agar para pedagang menempati kios tersebut, tetapi tentu saja degan harga sewa yang cukup tinggi. Dengan begitu area candi bebas dari pedagang-pedagang asongan dan tentu saja pemulung. Penjagaan cukup ketat. Satpam siap menindak tegas apabila ada pemulung atau pengemis yang masuk kedalam candi. Memang candi Prambanan kini menjadi terlihat bersih, tertata rapi, dan semakin lebih terurus.
 
Di temui di rumahnya ia mengeluh mengenai keadaanya sekarang pasca perbaikan manajemen di lokasi wisata candi Prambanan.“ Saiki ra entok mlebu kok mbak, ora oleh karo satpam e. Di kon lungo golek nggon liyo ora entok neng candi (sekarang  tidak boleh masuk kok mbak, tidak boleh sama satpamnya. Disuruh pergi cari tempat laen, tidak boleh di Candi)”, kata Sumiyem di rumahnya di Prambanan, Sleman, Sabtu (12/5). Dengan demikian Sumiyem harus rela kehilangan mata pencahariannya sebagai pemulung di tempat terebut.
 
Sekarang Sumiyem harus berputar  dimana ia akan memulung lagi dan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya supaya dapurnya tetap ngebul. Apabila di perkampungan penduduk tentu ia tidak diperbolehkan oleh warga sekitar karena takut dianggap akan mencuri. Untuk sementara waktu ini Sumiyem akan beristirahat di rumahnya terlebih dahulu dan memikirkan apa yang harus dilakukannya semenjak lokasi candi Prambanan tertutup untuk pemulung dan pengemis.